Jadi Juri Lomba Tari, akkhh Saya Kangen Panggung

Tepat di hari ini, selasa 24 Oktober, agenda saya yang polos akhirnya terisi juga dengan sebuah acara menjadi Juri dalam Lomba Kreatifitas Tari di GOR Jakarta Selatan. Tentu saja saya antusias bisa ikut dalam bagian acara tersebut, wah karena memang saya kangen sekalo dengan atribut dan kegiatan kesenian yang sudah lama absen.

Pengisi atau peserta acara nya melainkan siswa-siswi sekolah menengah atas yang berada di kawasan Jakarta Selatan. Setiba disana para peserta sibuk mempersiapkan diri dan masing-masing anggotanya. Merapikan sanggul juga hiasan kepala, memakai busana tari yang beraneka warna, serta merias hingga pangling ketika menari nanti.

Kami sebagai juri, yang kesemuanya berjumlah 4 orang dengan berbagai latar belakang seni tari  yang telah memiliki parameter penilaian. Sebelum acara di mulai kami mengadakan rapat kecil untuk bermusyawarah dalam cakupan sejauh mana akan memberikan penilaian, karena melihat dari usia  juga latar belakang peserta yang pada dasarnya setingkat, yakni usia remaja SMA.

Apa saja yang menjadi bahan penilaian, menurut kami selaku juri disana ada 4 hal pokok yang dinilai dalam perlombaan kali ini.
1. Wirasa
2. Wiraga
3. Wirama
4. Wirupa

Ke empat hal pokok tersebut sudah mewakili , ekspresi penari, teknik gerak, komposisi tari, iringan tari, juga rias dan busana peserta. Hal yang saya perhatikan dari beberapa perlombaan, para penari lupa akan sebuah kerapihan dan kebersihan termasuk telapak kaki. Karena menari Tradisional sebagian besar tidak menggunakan alas kaki dan mereka lupa untuk membersihkan sebelum tampil di atas pentas, padahal mereka sudah berkeliaran kesana kemari. Selain itu juga kerapihan akan penggunaan pakaian yang masih terlihat peniti tidak rapi, penggunaan kain yang kurang simetri, juga tatanan sanggul yang kurang kurang kuat. Hal kecil seperti itu yang sering mereka abaikan, karena prinsipnya menari harus memperhatiakan tampilan audio juga visual yang sempurna sehingga penonton yang menikmati dan menyaksikan memiliki kepuasan juga menyimpan makna yang disampaikan dari pertunjukan tersebut. Karena peserta juga masih dalam tahap belajar dasar kami juga memiliki tingkat penilaian khusus agar peserta akan terpacu untuk lebih mengenal serta mempelajari tari tradisional khususnya, serta menjadi pionir bagi anak muda atau remaja di Indonesia untuk mencintai budaya lokal.

Karena kreatifitas juga warisan budaya nusantara memiliki peran penting, tidk hanya sebagai identitas tetapi sebagai jiwa positif yang harus di pupuk agar tercipta manusia yang harmonis juga rukun walaupun berbeda-beda. Penampilan peserta di dominasi tari kreasi dari daerah Betawi juga tari Saman yang berasal dari Aceh. Lantunan vokal yang kompak serta gerak tari yang memiliki tenaga yang selaras dengan irama musik menjadikan poin penting dalam pertunjukan hari ini. Saya merasa bangga masih banyak remaja yang peduli akan potensi kesenian daerah yang memang wajib di lestarikan dan ditampilkan diberbagai acara serta menjadi kebanggaan yang utama di tuan rumah sendiri.

Yuk kawan cintai kesenian dan kebudayaan daerah.
Oiya kalau di daerah kamu ada yang mengadakan lomba tari atau ingin belajar tari bisa loh menghubugi saya, maaf yahh kalau ujung-ujung nya iklan. Bolehh gak? Bolehh yah, boleh.
SEMANGART

Spread the love
No Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *