Jakarta-Yogyakarta-Jatisrono-Surabaya-Jakarta : Travelling dengan Bayi 6 bulan

Saat di kereta
 Setelah berpamitan dan ber say- say bye-bye, see ya, matur nuwun, kita melangkahkan kaki kearah luar disambut dengan embun dan membasahi batu batu di halaman rumah Jatisrono. Yap kita sudah bersilahturahmi pada hari itu, dan menghaturkan rasa terima kasih yang hangat karena disambut baik dan di perlakukan dengan istimewa.
Barang bawaan kami bertambah banyak dengan diberikannya oleh-oleh juga berbagai pesanan untuk keluarga dirumah, wahhh tambah lumayan donk yah, sebenaarnya mau meminimalisir barang supaya tidak repot karena sudah membopong si kecil Abraham, yang berat badannya menurut saya tidak kecil lagi.
Perjalanan ke Surabaya
Kita menuju terminal Bus untuk melanjutkan perjalanan ke Surabaya, sebelumnya perjalanan kami dari Jakarta ke Yogyakarta, suda diceritakan juga bagaimana pesiapan kami untuk seminggu kedepan di tulisan sebelumnya di : Mempersiapkan Travelling .  Selanjutnya setelah di Yogyakarta saya melanjutkan cerita di  Perjalanan Yogya-Jatisrono dengan menggunakan kendaraan umum. Begitu cerita kami sekarang masih memantapkan pilihan dengan kendaraan umum, tetapi memilih bus dengan fasilitas yang memiliki AC agar Abraham tidak terlalu rewel dan bisa tidur disepanjang perjalanan, karena perjalanan sebelumnya Abraham tidak tidur karena gerah dan lumayan sumpek berbaur dengan berbagai bau yang campur-campur. Perjalanan yang kami tempuh sekitar 5 jam, dan benar saja dijalan Abraham hanya menyusu, makan biskuit lnatas tertidur, tidak menimbulkan tangisan berarti, walaupun ia tetap aktif, kadang saya berdiri bergantian dengan suami mengajak Abraham bermain sejenak, sekedar menyanyi atau bermain cilukba. Bus yang kami tumpangi agak penuh banyak penumpang yang berdiri, juga pengamen yang bergantian menjadi penghibur Abraham, karena beberapa diantaranya ada yang suaranya masih enak di dengar, Saat Abraham tertidur pun kami sejenak memejamkan mata, walaupun tidak sebenarnya tidur.
Malam hari kita sampai di Kota Surabaya melihat patung Sura dan Buaya, tergabung lah jadi Kota dengan nama Surabaya (sejarah ala-ala hehehe). Kami dijemput oleh sanak saudara di tempat yang sudah di janjikan sebelumnya. Seingat saya sudah pernah ke Surabaya sekitar 4 atau 5 kali, tapi sepertinya yang benar-benar saya ingat ya kala ini.
Abraham Histeris 
Karena sudah malam, sesampai dirumah saya istirahat, tetapi kendala kami tak bisa tertidur adalah saat memasuki kamar Abraham langsung mengisyaratkan muka ketakutan dan sesaat setelahnya langsung menangis, saya agak bingung kenapa ia langsung menangis tiba-tiba, apa mungkin badannya pegal, kami balurkan minyak kayu putih, sambil agak dipelurut atau dipijat, masih menangis bahkan makin mencengangkan. Tetapi saya tetap bisa mengendalikan diri dan tidak panik, saya pikir Abraham mau menyusu haus dan  lapar, tetapi tidak laku juga ternyata, saya coba kasi senandung ala-ala malah Papihnya tertawa dan tidak memberikan dampak yang baik juga. sudah lebih dari 30 menit Abraham menangis, kadang kencang tetapi perlahan mulai terisak-isak, atau mungkin kolik, tapi saya ingat Abraham tidak pernah menangis seperti ini, pasti ada yang aneh di dalam ruangan ini (kamar). Benar saja setelah saya mengamati seuluruh isi kamar ternyata ada beberapa gambar atau karikatur, lantas saya mencopot gambar tersebut, dan menyodorkannya ke Abraham, gambar A tak ada reaksi masih menangis, gambar B reaksi datar, lantas gambar C terakhir, nahh ini dia yang jadi masalah setelah saya sodorkan ke depan mukanya Abraham ia langsung berekspresi dengan bibir melengkung kebawah, dahi mengkerut dan mata terpejam, karena takut. Lalu saya pinggirkan lagi, dia menatap sekeliling ruangan menangisnya sudah mereda, lalu saya ingin memastikan apa benar karena gambar ini ia menangis, sekaligus menyalurkan bakat iseng saya sodorkan lagi dan menagis histeris lagi. Ooh berarti masalahnya sudah ketemu, saya dan suami geleng-geleng sambil memangku Abraham Papih tertawa heran , kenapa bisa takut melihat gambar lucu seperti itu, lantas langsung saja Abraham saya timang-timang dan tertidur, mungkin ia lelah di perjalanan, lelah menangis, dan sedikit kesal karena saya sodorkan kembali gambar itu. 
Saya perhatikan itu hanya gambar karikatur Mr. Bean yang menurut kami orang dewasa, mungkin menurut Abraha itu mengerikan, hehehe. Jadi saya sampaikan dan meminta ijin kepada Pakde untuk sementara menyimpan gambar karikatur Mr. Bean itu dan saya ceritakan ternyata Abraham takut.
Satu Hari di Surabaya
Pagi hari di Surabaya ternyata tidak sejuk seperti yang saya bayangkan, dan siang hari disana juga cerah meriah, diterjang sinar matahari yang membuat legam kulit, alias panas. Kami mengunjugi beberapa saudara disana, dan sore harinya kami mengunjungi dan  melewati Jembatan Suramadu. ternyata panjang sekali yah, sejauh 5438m, dan masih merupakan jembatan terpanjang di Indonesia melintasi Selat Madura, yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Madura. Lebih indah melintasi Jembatan Suramadu  memaang saat senja tiba, lampu-lampu mulai memecah langit dan memberi sentuhan cahaya yang kontras dengan sinar matahari terbenam digantikan sinar bulan juga bintang. Kami membeli beberapa oleh-oleh yang ada di daerah sekitar Jembatan Suramadu. Saya membeli kostum anak, tetapi mengurunkan niat membeli topeng reog, masih khawatir Abraham takut lagi, dan membeli beberapa VCD tari. Kami lantas kuliner malam dengan rawon khas Surabaya, dan keseharian Abraham merasa senang melihat berbagai kilau lampu, memegang pernak-pernik juga menikmati aroma rawon. Kalau yang makan si Mamih dan Papih, oia Abraham juga makan Rawon tetapi melalui ASI, hehehe.
Kembali ke Jakarta
Karena kami sudah memesan tiket pulang pergi, kami tidak bisa menambahkan waktu liburan kami satu hari pun, 7 hari juga sudah cukup untuk kami saling mendekatkan satu sama lain, belajar mengerti dan membagi tugas, tidak egois dan ngebossy masing-masing pihak, walaupun beberapa kali agak lama memutuskan beberapa hal, seperti naik andong atau tidak, beli oleh-oleh atau tidak, mau makan apa, mungkin itu yang agak kami perdebatkan sedikit, selebih kami gembira. Untuk Abraham saya yang menggurus semua keperluannya, seperti menyiapkan bubur tim, buah, juga biskuit, karena baru Mpasi beruntung Abraham tidak mengalami alergi, walauppun masih belajar untuk menerima makanan yang masuk dalam mulutnya. Untuk pencernaan Abraham tidak begitu sensitif, bisa sedikit terpapar udara yang tidak bersiih sepenuhnya. Nah bagian mengemasi baju dan peralatan lainnya, itu tugas papih, karena iya bisa melipat hingga kecil dan masuk semua barang kami di dalam keril.Tetap memisahkan baju ganti 2 buah, popok, minyak kayu putih, tisu basah, dan handuk kecil, makanan, juga mainan ditas selempang saya.
Kami menuju Pasar Turi dengan di antar oleh Pakde, tiket dan tanda pengenal sudah saya persiapkan, dan membayar tiket Abraham senilai 10% dari harga tiket kereta kelas yang kami pilih. Memasuki gerbong kereta sore hari Abraham nampak sedikit kelelahan, matanya cekung dan tidak banyak bergerak, ternyata air mulai keluar dari hidungnya dan Abraham sedikit flu, tetapi wajar karena menempuh jarak yang jauh juga berpindah pindah tempat. Lalu di perjalanan saya gempur Abraham dengan ASI juga minum air putih hangat, dan Abraham kembali ceria, ketika malam menjelang Abraham menguap dan yeay tidur sepanjang malam, kami bergantian bangun untuk mengganti popoknya.
Abraham Senang Dalam Perjalanan

Sekitar 12 jam perjalan kereta kami saat itu Surabaya-Jakarta, pagi hari Abraham menyapa, pramugari kereta, dan sedikit gumoh mengenai pakaian yang saya kenakan, juga lantai kereta karena sehabis menyusu. Lantas ada petugas yang datang utnuk membersihkannya, sesampainya di Stasiun Kota kami menggunakan taksi untuk kembali kerumah dan membongkar oleh-oleh, namun kenangan keluarga kami tetap tersimpan apik dalam hati kami semua.
Perjalanan kami waktu saat Abraham berusia 6 bulan, dan sekarang Abraham sudah berusia 3 tahun, perjalan pertama kami saat itu mebuat kami jadi doyan jalan-jalan, walaupun juga melihat isi kantong kami, tetapi suasana yang kami bangun tetap menyenangkan, karena bagaimananpun sunset tetap ada, sunrise tetap bersinar, hawa sejuk juga akan selalu hadir, tetapi kenangan bersama keluarga akan kita ciptakan dengan kehangat serupa
Perjalanan kami yang menyenangkan

Spread the love
No Comments

Tinggalkan Balasan ke Ira Guslina Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *